Monday, 2 December 2013

SEKILAS SEJARAH PERJALANAN EPISTEMOLOGI BARAT

Membahas sejarah perkembangan epistemologi tidak lepas dari proses berpikir manusia. Pertanyaan seputar bagaimana manusia memperoleh pengetahuan menjadi ciri khas dari epistemologi. Dalam hal berpikir akan muncul tiga sikap, yaitu sikap percaya, menolak, dan ragu dari ketiga sikap manusia itu menafikan ada sikap lain dalam berpikir.  Dari ketiga sikap manusia berpikir inilah menandai perkembangan zaman. Ada sekelompok orang yang mempercayai bahwa realitas itu dapat dikenali, baik mengunakan akal atau salah satu dari instrumen epistemologi tersebut.
Setelah mengunakan instrumen epistemologi kita mengkonfirmasi adanya realitas. Ketika memastikan adanya realitas maka kita mengambil sikap percaya, di sisi lain  ada pula yang mengunakan indera untuk mengenal realitas, kita menyebutnya dengan matrealism. Sudut yang paling ekstrim sekelompok orang yang sama sekali tidak mempercayai realitas, kita menyebutya dengan agnostik.
Pada kesempatan ini kita akan menitikberatkan, bagaimana ciri epistemology dari zaman yunani hingga modern dalam memandang realitas. Sebagaimana kita ketahui perkembangan zaman melahirkan ciri khas peradaban. Seperti halnya di yunani klasik saat itu sudut pandang seseorang berpijak dari landasan kosmologinya, jadi kajian filosofis cendikiawan yunani saat itu berfokus pada alam. pada zaman ini lahirlah filosof seperti Thales (640 sm), kemudian ada  Anaximander, anaximenes dan Heraclitus yang mengkaji asal muasal alam semesta. Pandangan epistemology mereka dipengaruhi empiris sensual, Karena mereka mengamati realitas dengan indera maka kita dapat mengetahui bahwa pandangan filosof yunani  mereka berasal dari pengamatan empiris.
Lambat laun kajian alam ini dibawa ke ranah teologis, dahulu para filosof yunani mengatakan asal muasal terbentuk alam ini dari materi seprti air, udara, tanah dan atom atom. Pada masa scolastik isu cikal bakal alam ini berasal dari Tuhan. Pada masa ini lahirlah filosof seprti Thomas Aquinas, St Agustinus, dan para penginjil seperti Lukas,dll. Pada masa ini landasan epistemologinya berpijak dari dogma-dogma wahyu dan peran rasio. Perkembangan dunia sains tampak mulai berkembang ketika itu walau sering terjadi pro dan kontra dengan ajaran gereja. Diantaranya adalah Nikolous Copernikus si tokoh gerejani ortodox yang menemukan matahari sebagai pusat tata surya, Johanes Kepler yang juga memperoleh penemuan yang memantapkan teori heliosentris (matahari sebagai pusat peredaran), Galileo Galilei, ada juga pemikir pengatahuan sosial seperti Hugo de Groot si penggagas hukum internasional, Nicollo Machievelli, dan Thomas More. Semua penemuan ini membuat kelompok agama ketakutan karena kekuasaan agama baik atas pengetahuan maupun politik semakin terancam. Tokoh lain yang termasuk paling memberi pengaruh pada perubahan sejarah dunia adalah Francis Bacon yang mencoba memisahkan urusan agama dengan pengetahuan karena memiliki tempatnya masing-masing.
Semakin kuatnya pertentangan itu maka lahirlah satu masa dimana orang berbondong-bondong keluar dari agama dan meragukan otoritas wahyu. Masa ini di namakan masa renaisains dan aflarung dimana dari pandangan teologis berpindah fokus menjadi antroposentis (manusia pusat segalanya). Masa renaisans semakin sempurna dengan teori yang membuat pemantapan terhadap dasar kebenaran pengetahuan. Secara garis besar terdapat dua kubu yaitu ada yang meyakini akal sebagai dasar pengetahuan dan ada juga yang menganggap pengalaman indra sebagai dasarnya. Kedua kelompok ini lebih dikenal dengan rasionalisme dan empirisme.
Berkaitan dengan rasionalisme dan empirisme memiliki pandangan yang berbeda dalam melihat realitas. Kaum realis menganggap realitas dikenali hanya materi maka alat yang dapat digunakan untuk mengenal realitas adalah indera.  Nanti dalam prosesnya disebut empirisisme. Empirisme adalah aliran filsafat berkoalis dengan matrealisme. Empirisisme adalah aliran filasafat yang berbicara bahwa fakta hanya dapat dikenali melalui indera. Tetapi bukan sembarang indera tetapi indera yan g telah berulang-ulang dicoba, observasi dan penelitian agar menganalisir kesalahan. Untuk itu tidak lagi disebut sensualitas.
Kelompok kedua menganggap relitas itu tidak hanya materi kita menyebutnya rasionalis. Karena meyakini realitas dapat dikenali dengan indera tepi dapat pula dikenali dengan akal. Mereka menganggap bahwa indera benda mati, kalau tidak ada akal maka tidak berfungsi. Akalah yang menentukan mengenali realitas. Indera hanya dapat mengenali realitas yang material, itupun tanpa akal tidak dapat mengetahui. 
Pada abad pertengahan munculah subjektifitas manusia dan semakin parah dengan munculnya aliran eksistalisme, individulisme, dan kapitalisme. Akan tetapi pada abad itu bukan tidak ada filosof yang keluar dari mainstream, seperti Handri Bragson yang bicara intuisi diantara hingar bingar. Dan fase yang paling kacau ketika siapa saja bicara semaunya tanpa pijakan pengetahuan yang jelas.

0 comments:

Post a Comment