Tuesday, 3 December 2013

Kerancuan Makna Filsafat di Tengah Masyarakat

Kalau kita amati khususnya di dunia perkuliahan sekarang,  bahwa makna filsafat sebagai salah satu cabang ilmu, sudah mulai bergeser dari makna aslinya. Banyak orang-orang yang tak tahu filsafat, mengklaim bahwa filsafat adalah jurusan yang tak jelas ujungnya, tak jelas mau jadi apa nantinya, mahasiswa atau mahasiswi yang kuliah dengan jurusan filsafat, karena lowongan kerja yang membutuhkan sarjana filsafat sangat minim. Paling tidak menjadi pengajar filsafat bagi mahasiswa atau mahasiswi baru, itu pun jika ada yang berminat masuk jurusan filsafat, jika tidak ada yang berminat maka pintu untuk menjadi pengangguran akan terbuka lebar menanti kehadiranmu. Di Indonesia hanya sedikit dari banyak universitas yang mengadakan filsafat sebagai salah satu  pilihan jurusan bagi mahasiswa dan mahasiswi baru, sebagian yang lain meniadakannya karena mungkin peminat filsafat hanya sedikit atau mungkin sudah tak ada lagi. Terkhusus lagi pada filsafat islam, bahwa kita semua tahu Indonesia merupakan negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia, tapi mengapa hanya ada satu sekolah tinggi yang fokus mengembangkan filsafat islam? Padahal filsafat islam merupakan pilar penting bagi umat islam untuk menghadapi berbagai tantangan zaman yang kian hari semakin mengancam kebenaran agama islam itu sendiri.
Sebagian mereka berpikir bahwa filsafat  hanyalah ilmu yang  berbicara masalah teori tanpa mementingkan praktek. Buktinya bahwa banyak para pelajar filsafat (pelajar muslim) yang meninggalkan shalat fardhu khususnya, bahkan cenderung mempertanyakannya. Tidak hanya itu, mereka bahkan tak segan untuk tidak menghormati Al-Quran sebagai firman Allah SWT, serta memperlakukannya seperti buku bacaan biasa.
Pemahaman dan pandangan yang kurang benar tentang filsafat ini perlu untuk diluruskan agar masyarakat tidak salah dalam memandang filsafat serta tidak mengucilkan keberadaan orang-orang yang belajar filsafat. Sebetulnya filsafat itu bukan lah ilmu yang hanya berkutat dalam ranah teoritis saja, tapi juga berpengaruh dalam perilaku dan pola hidup manusia sebagai cerminan utuh perilaku orang yang bijaksana. Sesuai dengan pandangan Ikhwan al-Shafa yang ditulis di oleh Seyyed Hossein Nasr di dalam bukunya, bahwa awal dari filsafat itu adalah cinta ilmu, pertengahannya adalah pengetahuan atas segala realitas yang ada menurut ukuran kemampuan manusia, dan puncaknya adalah perilaku yang sesuai dengan pengetahuan tersebut. Dari pendapat ini dapat kita artikan bahwa orang-orang yang benar-benar mempelajari filsafat bukan lah orang-orang yang hanya mementingkan teori saja, tapi juga mementingkan praktek (kelakuan) yang mencerminkan sosok seorang yang bijak. Ibn Sina saja yang kita kenal sebagai seorang pilosof besar muslim selalu melaksanakan shalat, terlebih ketika beliau mendapatkan persoalan keilmuan yang rumit. oleh karena itu, ada baiknya kalau kita memandang cermat atas perilaku sebagian pelajar filsafat yang hanya mahir dalam teori saja dan nihil dalam praktek. Apakah hal itu disebabkan karena filsafat (filsafat mengajarkan mereka untuk bersikap demikian) atau karena pelajarnya sendiri yang menyelewengkan makna filsafat serta memanfaatkan dalil-dalil filsafat untuk menyerang praktek-praktek keagamaan, agar terkesan bahwa filsafatlah yang membimbing mereka untuk tidak shalat, mengaji, dan sebagainya. Sesungguhnya filsafat tak pernah mengajarkan demikian. Filsafat mengajarkan manusia untuk tidak hanya pandai dalam beretorika saja, melainkan juga bijak dalam tindakannya. Para pelajar filsafat yang hanya pandai dalam teori dan nihil dalam praktek itu adalah orang-orang yang belum memahami apa filsafat seutuhnya, sejatinya mereka itu belum pantas mengaku sebagai seorang pelajar filsafat.
Kemudian statemen yang mengatakan bahwa pelajar filsafat itu merupakan pelajar yang tidak memiliki masa depan yang jelas justru keliru. Mereka berkata demikian karena mereka hanya memandang filsafat hanya dari kulit luarnya saja, tanpa mengetahui isi filsafat itu seperti apa. Filsafat itu mengajarkan kita untuk belajar mengatasi berbagai permasalahan hidup, termasuk permasalahan ekonomi. Mereka yang mempelajari filsafat dengan benar tentu tidak akan sulit untuk mengatasi berbagai permasalahan, terlebih permasalahan ekonomi. Karena sebelumnya mereka sudah dituntut untuk menjadi pelajar yang kreatif, terbiasa memecahkan berbagai persoalan kehidupan. Dan seorang sarjana filsafat yang baik, tentu tak akan pernah kehabisan cara untuk membuat kehidupannya menjadi baik.

By: Husnul Amilin

0 comments:

Post a Comment