Membahas
sejarah perkembangan epistemologi tidak lepas dari proses berpikir manusia.
Pertanyaan seputar bagaimana manusia memperoleh pengetahuan menjadi ciri khas
dari epistemologi. Dalam hal berpikir akan muncul tiga sikap, yaitu sikap
percaya, menolak, dan ragu dari ketiga sikap manusia itu menafikan ada sikap
lain dalam berpikir. Dari ketiga sikap
manusia berpikir inilah menandai perkembangan zaman. Ada sekelompok orang yang
mempercayai bahwa realitas itu dapat dikenali, baik mengunakan akal atau salah
satu dari instrumen epistemologi tersebut.
Setelah
mengunakan instrumen epistemologi kita mengkonfirmasi adanya realitas. Ketika
memastikan adanya realitas maka kita mengambil sikap percaya, di sisi lain ada pula yang mengunakan indera untuk
mengenal realitas, kita menyebutnya dengan matrealism. Sudut yang paling
ekstrim sekelompok orang yang sama sekali tidak mempercayai realitas, kita
menyebutya dengan agnostik.
Pada
kesempatan ini kita akan menitikberatkan, bagaimana ciri epistemology dari
zaman yunani hingga modern dalam memandang realitas. Sebagaimana kita ketahui
perkembangan zaman melahirkan ciri khas peradaban. Seperti halnya di yunani
klasik saat itu sudut pandang seseorang berpijak dari landasan kosmologinya,
jadi kajian filosofis cendikiawan yunani saat itu berfokus pada alam. pada
zaman ini lahirlah filosof seperti Thales (640 sm), kemudian ada Anaximander, anaximenes dan Heraclitus yang
mengkaji asal muasal alam semesta. Pandangan epistemology mereka dipengaruhi empiris
sensual, Karena mereka mengamati realitas dengan indera maka kita dapat
mengetahui bahwa pandangan filosof yunani mereka berasal dari pengamatan empiris.
Lambat
laun kajian alam ini dibawa ke ranah teologis, dahulu para filosof yunani
mengatakan asal muasal terbentuk alam ini dari materi seprti air, udara, tanah
dan atom atom. Pada masa scolastik isu cikal bakal alam ini berasal dari Tuhan.
Pada masa ini lahirlah filosof seprti Thomas Aquinas, St Agustinus, dan para
penginjil seperti Lukas,dll. Pada masa ini landasan epistemologinya berpijak
dari dogma-dogma wahyu dan peran rasio. Perkembangan dunia sains tampak
mulai berkembang ketika itu walau sering terjadi pro dan kontra dengan ajaran
gereja. Diantaranya adalah Nikolous Copernikus si tokoh gerejani ortodox yang
menemukan matahari sebagai pusat tata surya, Johanes Kepler yang juga
memperoleh penemuan yang memantapkan teori heliosentris (matahari sebagai pusat
peredaran), Galileo Galilei, ada juga pemikir pengatahuan sosial seperti Hugo
de Groot si penggagas hukum internasional, Nicollo Machievelli, dan Thomas
More. Semua penemuan ini membuat kelompok agama ketakutan karena kekuasaan
agama baik atas pengetahuan maupun politik semakin terancam. Tokoh lain yang
termasuk paling memberi pengaruh pada perubahan sejarah dunia adalah Francis
Bacon yang mencoba memisahkan urusan agama dengan pengetahuan karena memiliki
tempatnya masing-masing.
Semakin
kuatnya pertentangan itu maka lahirlah satu masa dimana orang
berbondong-bondong keluar dari agama dan meragukan otoritas wahyu. Masa ini di
namakan masa renaisains dan aflarung dimana dari pandangan teologis berpindah
fokus menjadi antroposentis (manusia pusat segalanya). Masa renaisans semakin
sempurna dengan teori yang membuat pemantapan terhadap dasar kebenaran
pengetahuan. Secara garis besar terdapat dua kubu yaitu ada yang meyakini akal
sebagai dasar pengetahuan dan ada juga yang menganggap pengalaman indra sebagai
dasarnya. Kedua kelompok ini lebih dikenal dengan rasionalisme dan empirisme.
Berkaitan
dengan rasionalisme dan empirisme memiliki pandangan yang berbeda dalam melihat
realitas. Kaum realis menganggap realitas dikenali hanya materi maka alat
yang dapat digunakan untuk mengenal realitas adalah indera. Nanti dalam prosesnya disebut empirisisme.
Empirisme adalah aliran filsafat berkoalis dengan matrealisme. Empirisisme
adalah aliran filasafat yang berbicara bahwa fakta hanya dapat dikenali melalui
indera. Tetapi bukan sembarang indera tetapi indera yan g telah berulang-ulang
dicoba, observasi dan penelitian agar menganalisir kesalahan. Untuk itu tidak
lagi disebut sensualitas.
Kelompok kedua
menganggap relitas itu tidak hanya materi kita menyebutnya rasionalis. Karena
meyakini realitas dapat dikenali dengan indera tepi dapat pula dikenali dengan
akal. Mereka menganggap bahwa indera benda mati, kalau tidak ada akal maka
tidak berfungsi. Akalah yang menentukan mengenali realitas. Indera hanya dapat
mengenali realitas yang material, itupun tanpa akal tidak dapat
mengetahui.
Pada
abad pertengahan munculah subjektifitas manusia dan semakin parah dengan
munculnya aliran eksistalisme, individulisme, dan kapitalisme. Akan tetapi pada
abad itu bukan tidak ada filosof yang keluar dari mainstream, seperti Handri
Bragson yang bicara intuisi diantara hingar bingar. Dan fase yang paling kacau
ketika siapa saja bicara semaunya tanpa pijakan pengetahuan yang jelas.